Feeds:
Posts
Comments

Being Mother

Rasanya tepat kalo ada kata-kata bijak bahwa ketika menjadi seorang ibu segalanya akan mengubahmu, mungkin kamu tak lagi cantik menawan seperti dulu dan mungkin kamu tak akan punya waktu untuk pergi sekedar menyenangkan diri sendiri tapi hidupmu akan lebih berwarna dengan hadirnya sikecil dan yg paling penting kamu akan tetap bahagia

Desember 2010 setahun yang lalu, ketika hamil sedang besar-besarnya menanti kelahiran bukanlah perkara yg mudah bagiku. dengan kondisi badan bengkak yg amat sangat maklumlah saat itu berat badanku bertambah 15 kilogram dan kebetulan juga aku bukanlah seorang dengan sabar yg luar biasa seperti ibuku jadi menanti si kecil lahir adalah waktu yg sangat lama bagiku ternyata si anak ini pengen lahir di hari istimewa akhir tahun tepat menjelang terompet ditiup 11.45

Ketika kelahiran itu adalah penantian yang tak kunjung datang ternyata memiliki bayi itu juga bukan perkara mudah. Bulan-bulan pertama tidurnya terbalik, siang hari hampir sebagaian besar waktunya untuk tidur tapi begitu malam pengennya main terus padahal mata bundamu ini sudah 1 watt naaak (begitulah perasaanku tiap hari)

Desember 2011, sudah separuh bulan ditahun ini berjalan sayang tak terasa sudahhampir 1 tahun umurmu menikmati peran membuat bundamu ini terlalu senang sehingga 1 tahun ini berjalan dengan sukses walaupun aku harus bolak-balik kantor untuk sekedar bisa menyusuimu tapi bunda seneng nak kau pun tumbuh tinggi dan sehat. Rasanya itu sudah kebahagiaan tak ternilai untuk bunda

Dan tentang ayah, yang masih belum bisa sepenuhnya menemani hari-hari kita bunda hanya bisa menjanjikan ayah akan berusaha bersama kita sayang. walau usahanya belum membuahkan hasil saat ini, tapi bunda selalu ceritakan perkembanganmu padanya agar ayah tau kalo adek sudah bisa jalan, sudah bisa meminta dan mau memberikan waktu kepada bunda untuk sholat tanpa tangisanmu. Rasanya bunda sangat bahagia kamu menjadi bagian dari hidup keluarga kecil kita 🙂

Wedding in Islam

Pernikahan
Oleh: KH. Dr. A. Mustofa Bisri

Pernikahan merupakan salah satu sunnah Rasul SAW dan merupakan anjuran agama. Pernikahan yang disebut dalam al-Quran sebagai miitsaaqun ghaliizh, perjanjian agung, bukanlah sekedar upacara dalam rangka mengikuti tradisi, bukan semata-mata sarana mendapatkan keturunan, dan apalagi hanya sebagai penyaluran libido seksualitas atau pelampiasan nafsu syahwat belaka.

Pernikahan adalah amanah dan tanggungjawab. Bagi pasangan yang masing-masing mempunyai niat tulus untuk membangun mahligai kehidupan bersama dan menyadari bahwa pernikahan ialah tanggungjawab dan amanah, maka pernikahan mereka bisa menjadi sorga. Apalagi, bila keduanya saling menyintai.

Nabi Muhammad SAW telah bersabda yang artinya,“Perhatikanlah baik-baik istri-istri kalian. Mereka di samping kalian ibarat titipan, amanat yang harus kalian jaga. Mereka kalian jemput melalui amanah Allah dan kalimah-Nya. Maka pergaulilah mereka dengan baik, jangan kalian lalimi, dan penuhilah hak-hak mereka.”

Ketika berbicara tentang tanggungjawab kita, Rasulullah SAW antara lain juga menyebutkan bahwa “Suami adalah penggembala dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya dan isteri adalah penggembala dalam rumah suaminya dan bertanggungjawab atas gembalaannya.”

Begitulah, laki-laki dan perempuan yang telah diikat atas nama Allah dalam sebuah pernikahan, masing-masing terhadap yang lain mempunyai hak dan kewajiban. Suami wajib memenuhi tanggungjawabnya terhadap keluarga dan anak-anaknya, di antaranya yang terpenting ialah mempergauli mereka dengan baik. Istri dituntut untuk taat kepada suaminya dan mengatur rumah tangganya.

Masing-masing dari suami-isteri memikul tanggungjawab bagi keberhasilan perkawinan mereka untuk mendapatkan ridha Tuhan mereka. Apabila masing-masing lebih memperhatikan dan melaksanakan kewajibannya terhadap pasangannya daripada menuntut haknya saja, Insya Allah, keharmonisan dan kebahagian hidup mereka akan lestari sampai Hari Akhir. Sebaliknya, apabila masing-masing hanya melihat haknya sendiri karena merasa memiliki kelebihan atau melihat kekurangan dari yang lain, maka kehidupan mereka akan menjadi beban yang sering kali tak tertahankan.

Masing-masing, laki-laki dan perempuan, secara fitri mempunyai kelebihan dan kekurangannnya sendiri-sendiri. Kelebihan-kelebihan itu bukan untuk diperbanggakan atau diperirikan. Kekurangan-kekurang pun bukan untuk diperejekkan atau dibuat merendahkan. Tapi, semua itu merupakan peluang bagi kedua pasangan untuk saling melengkapi. Kedua suami-isteri bersama-sama berjuang membangun kehidupan keluarga mereka dengan akhlak yang mulia dan menjaga keselamatan dan keistiqamahannya selalu. Dengan demikian, akan terwujudlah kebahagian hakiki di dunia maupun di akhirat kelak, Insya Allah.

KH. Dr. A. Mustofa Bisri, Pengajar di Pondok Pesantren Taman Pelajar
Raudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah.

take from email sigit wahyu

Regards,
AWR

My First Love…

Salam

Cinta Pertama alias First Love yang sering dibilang orang tidak akan pernah terlupa
mungkin benar adanya
karena saat  itu kita merasakan apa yang disebut cinta
berbagai hal yang mungkin norak kita lakukan
malu-malu ketika bertemu, suka salah tingkah ketika didepan doi
banyaklah hal yang jika ditelaah ulang ternyata malu-maluin
itu jamanku dulu…
mungkin remaja sekarang lebih terbuka dengan ini

oke kita kembali ke kisahku
aku mengenalnya ketika saat itu sedang ada pemilihan Kades didesaku
*iyah ketahuan deh kalo aku orang desa
tapi gpp yah asal ga ndesoni
dia sering bertandang kerumahku karena rumahku menjadi salah satu basis
salah satu calon Kades
dibuatlah arena bulu tangkis oleh ayahku
untuk menarik perhatian warga
dan aku tentu saja
harus membuatkan kopi untuk mereka
iyah biasalah orang ndeso yang berkumpul semalaman ditemani kopi mantab banget
dan itulah yang terjadi setiap malam
bahkan tak jarang para warga itu menginap dirumahku

waktu terus bergulir
aku kebetulan diterima di sebuah SMP yang lumayan favorit di kotaku
dan jalan menuju sekolahku harus melewati rumahnya
bisa dibayangkan khan?
tapi bukan berarti aku yang masih bau kencur itu pacaran loh
kita hanya saling senyum aja ketika bertemu
dan mungkin karena aku tak terbiasa berteman dengan laki-laki
jadi senyum aja cukup lah

menjelang akhir kelas 3 SMP barulah dia mengutarakan isi hatinya
dan saat itu dia sudah hampir lulus SMA
karena baru pertama kali ditembak cowok
dan saat itu saya belum tau apa yang harus dilakukan
aku bertanya pada ibuku
dan lucunya ibuku memikirkannya untukku
hingga 2 hari kemudian beliau menyarankanku untuk berteman dekat aja dulu

mungkin bagi remaja ini bukanlah suatu pikiran yang bijak
tapi bagiku ternyata dengan menceritakannya kepada ibuku aku merasakan manfaat yang banyak.

ibuku, aku tak perlu backstreet dengannya
diapun diterima dengan baik kalo main kerumah
asalkan tidak macam2
alias pacaran sehat kurasa orang tua kita akan menyetujuinya
tapi terlalu dini kali ya kalo disebut pacaran
lebih ke teman dekat saja

kok jadi sok bijak nih…
hehehe…aniwei cerita uniknya ketika ternyat ibunya tidak suka padaku
dia sering bicara ngawur ketika ibunya tau dia sedang menerima telpon
dan berbicara seolah-olah itu teman laki-lakinya
hhihihi norak yah
dulu jamannya gak ada HP kayak sekarang adanya cuma telepon rumah
atau dia memilih untuk menelponku daripada menerima telponku

terkadang juga dia membuntutiku dengan motornya
ketika aku berangkat sekolah atau pulang sekolah
dia cerita  kalo dia berasalan hendak menjemput adiknya yang kebetulan kakak kelasku
hummmm lucu banget kalo mengingatnya
tapi yah begitulah cinta pertama
selalu ada kisah menarik untuk dikenang
walaupun kami tak bertemu lagi sekarang
dan akupun telah menemukan sandaran hati yang lain
at last cerita-cerita lucu itu tak kan pernah terlupa
Regards,
AWR

Salam
cerita ini dialami oleh orang yang sangat dekat denganku…
dan aku sangat bangga padanya

dia adalah wanita dari desa
dengan keluarga yang sangat sederhana…
bahkan boleh dibilang tidak punya
tapi dia tidak pernah mengeluh…

dia sangat menyukai dunia seni
terutama seni desain dan menjahit
dia sering bercerita ketika dia menginginkan baju baru
dia bekerja di sawah orang sebagai buruh tani
kemudian dia membeli bahan kain dan menjahitnya sendiri
entah karena dia memang bakat
bajunya selalu menjadi trend

dia memutuskan untuk bersekolah pondok pesantren
pada saat itu sekolah di pesantren sangat sulit
banyak hafalan, dan bukan sekedar hafalan bahasa indonesia
tetapi juga hafalan bahasa arab
yang baginya terlampau sulit
apalagi dengan basic keluarga yang dibilang mentah dalam hal agama
(hampir menangis aku mendengar ceritanya)
dia bercerita padaku berapa uang saku yang diterimannya
yang hanya cukup untuk membeli semangkok dawet(makanan khas kotanya)
itupun kadang ngutang dulu
dia bercerita bagaimana dia yang tidak terlalu tinggi
harus naik sepeda gede(sepeda jaman lama)
dan aku tahu itu sangat sulit
tapi dia tak pernah menyerah
ketika musim ujian tiba
dia bangun ditengah malam
menggelar sajadah dan melaksanakan sholat tahadjut
kemudian duduk ditemaram lampu minyak
dan berusaha dengan keras untuk menghafal..
dengan perjuangan yang begitu krasnya
dia akhirnya lulus juga

pada saat remajanya dia sangat pendiam
tak bicara jika tak perlu
tapi justru kediamannya itu membuat lawan jenisnya berlomba-lomba mendekatinya
tapi tak satupun surat cinta mereka dibalasnya(pada saat itu pacaran hanya dengan surat)
hingga dia bertemu dengan seseorang
laki-laki yang sangat kuat pendirian
dan akhirnya menikah

mereka hidup sangat sederhana
tapi cukup…
mereka mampu menyekolahkan anak-anaknya
bahkan sampai perguruan tinggi

dan sekarang aku berdiri dengan kondisiku sekarang
aku sangat merasa bersyukur…
memiliki orang tua seperti mereka
bahkan kepadanya juga aku mempercayakan seluruh isi hatiku…
ibuku dialah wanita sederhana itu…

love you mom…
AWR

Be Positive….

Salam…..

Lama kiranya saya tidak eksis di blog ini…dan memang saya terbuai oleh aplikasi jejaring sosial fesbuk. tapi kiranya banyak sekali pikiran yang mengganggu akhir-akhir ini sehingga rasanya aplikasi di fesbuk tidak lagi memuaskan hasratku untuk menumpahkan isi dipikiranku.

Ya Alloh ampuni aku untuk setiap dosa yang kuperbuat…
Diujung malam aku menengadahkan tanganku untuk meminta Doa-doaku pada-Nya
begitu besar harapanku untuk diterimanya doaku
sehingga aku sendiri *didalam hatiku merasakan bahwa iya itu akan dikabulkan sekarang
Dia pun menunjukkan tanda-tanda bahwa Rahmat itu ada
beberapa hari dengan kondisi mindset yang sama
terkadang mindset itu membuatku jenuh marah
tapi aku terus saja meyakini dalam hatiku

Namun Dia menunjukkan hal lain
apa yang kupikirkan dengan suami sama sekali tidak benar
Dialah yang mengambil keputusan
aku khilaf telah *ndisiki kerso (dalam istilah jawa)
tak seharusnya aku terlalu yakin dalam hati dan pernyataan
bahwa belum tentu yang kita pikir itu yang terjadi
karena Dialah satu-satunya yang Maha Tahu apa yang akan terjadi
kita hanya manusia yang cukup berusaha dan berdoa
hasilnya tentu saja urusan Alloh

benarlah adanya pepatah bilang
tulislah dengan pensil di catatan kecil apa yang kau inginkan
dan berikan penghapus  sekaligus pennya kepada Tuhan
karena dia akan menghapus yang tidak bagus untukmu
dan menggantinya dengan hal terbaik yang akan tertulis dengan pen itu

Sama halnya dengan yang aku alami
dua kali terjebak dalam mindset yang mendahului kersone Gusti Alloh
ternyata dia menghapus catatanku…
sedih memang, tapi inilah yang harus diterima
aku hanya ingin berbaik sangka pada-Nya
mungkin catatan yang terhapus itu dituliskan-Nya
di akhir note
atau bahkan dia sedang menkmati aku mendekat pada-Nya
karena sudah hakikat manusia ketika dalam kondisi susah/menginginkan sesuatu
maka berusahalah kita mendekati-Nya
namun ketika Dia telah menorehkan Taqdir itu
sering kali kita lupa bersyukur
Yaa Alloh jangan biarkan aku termasuk golongan orang-orang yang lupa bersyukur
Kini aku hanya meyakini bahwa Engkau tengah mempersiapkan aku untuk menerima anugrah terindah itu.

Now i Said to YOU my LORD
i accept Your decide with all my soul and hearth…

Best Regads,
AWR

surat cinta minimalis

Mungkin ada yang menganggap terlalu naif dan hanya ada di dalam cerita aja. Apapun itu, kadang memang harus pinggirkan hal duniawi dan kembali ke dasar kita.

Renungan buat yang sedang mencari pasangan hidup ataupun yang sedang
mengarungi bahtera rumah tangga..

Setiap kali ada teman yang mau menikah, saya selalu mengajukan pertanyaan yang sama.. Kenapa kamu memilih dia sebagai suamimu/istrimu?

Jawabannya sangat beragam. Dari mulai jawaban karena Allah hingga jawaban
duniawi (cakep atau tajir 😀 manusiawi lah :P).

Tapi ada satu jawaban yang sangat berkesan di hati saya.
Hingga detik ini
saya masih ingat setiap detail percakapannya.

Jawaban salah seorang teman yang baru saja menikah. Proses menuju
pernikahannya sungguh ajaib. Mereka hanya berkenalan 2 bulan.

Lalu memutuskan menikah. Persiapan pernikahan hanya dilakukan dalam waktu
sebulan saja. Kalau dia seorang akhwat, saya tidak akan heran.

Proses pernikahan seperti ini sudah lazim. Dia bukanlah akhwat, sama
seperti saya. Satu hal yang pasti, dia tipe wanita yang sangat
berhati-hati dalam memilih suami..

Trauma dikhianati lelaki membuat dirinya sulit untuk membuka diri. Ketika
dia memberitahu akan menikah, saya tidak menanggapi dengan serius.

Mereka berdua baru kenal sebulan.. Tapi saya berdoa, semoga ucapannya
menjadi kenyataan. Saya tidak ingin melihatnya menangis lagi.

Sebulan kemudian dia menemui saya. Dia menyebutkan tanggal pernikahannya.
Serta memohon saya untuk cuti, agar bisa menemaninya selama
proses
pernikahan.

Begitu banyak pertanyaan dikepala saya.. Asli..

Saya pengin tau, kenapa dia begitu mudahnya menerima lelaki itu.

Ada apakan gerangan? Tentu suatu hal yang istimewa. Hingga dia bisa
memutuskan menikah secepat ini. Tapi sayang, saya sedang sibuk sekali
waktu itu (sok sibuk sih aslinya).

Saya tidak bisa membantunya mempersiapkan pernikahan. Beberapa kali dia
telfon saya untuk meminta pendapat tentang beberapa hal.

Beberapa kali saya telfon dia untuk menanyakan perkembangan persiapan
pernikahannya. That’s all. Kita tenggelam dalam kesibukan masing-masing.

Saya menggambil cuti sejak H-2 pernikahannya. Selama cuti itu saya
memutuskan untuk menginap dirumahnya.

Jam 11 malam, H-1 kita baru bisa ngobrol -hanya- berdua.

Hiruk pikuk persiapan akad nikah besok pagi, sungguh membelenggu kita.
Padahal rencananya kita ingin ngobrol tentang banyak hal. Akhirnya, bisa
juga
kita ngobrol berdua. Ada banyak hal yang ingin saya tanyakan. Dia
juga ingin bercerita banyak pada saya.

Beberapa kali Mamanya mengetok pintu, meminta kita tidur.

“Aku gak bisa tidur.” Dia memandang saya dengan wajah memelas. Saya paham
kondisinya saat ini.

“Lampunya dimatiin aja, biar dikira kita dah tidur.”

“Iya… ya.” Dia mematikan lampu neon kamar dan menggantinya dengan lampu
kamar yang temaram. Kita melanjutkan ngobrol sambil berbisik-bisik.

Suatu hal yang sudah lama sekali tidak kita lakukan. Kita berbicara banyak
hal, tentang masa lalu dan impian-impian kita. Wajah sumringahnya terlihat
jelas dalam keremangan kamar. Memunculkan aura cinta yang menerangi kamar
saat itu. Hingga akhirnya terlontar juga sebuah pertanyaan yang selama ini
saya pendam.

“Kenapa kamu memilih dia?” Dia tersenyum simpul lalu bangkit dari tidurnya
sambil meraih HP dibawah bantalku. Berlahan dia membuka laci
meja riasnya.

Dengan bantuan nyala LCD HP dia mengais lembaran kertas didalamnya.

Perlahan dia menutup laci kembali lalu menyerahkan selembar amplop pada
saya. Saya menerima HP dari tangannya. Amplop putih panjang dengan kop surat perusahaan tempat calon suaminya bekerja. Apaan sih. Saya
memandangnya tak mengerti. Eeh, dianya malah ngikik geli.

“Buka aja.” Sebuah kertas saya tarik keluar. Kertas polos ukuran A4, saya
menebak warnanya pasti putih hehehe.

Saya membaca satu kalimat diatas dideretan paling atas.

“Busyet dah nih orang.” Saya menggeleng-gelengka n kepala sambil menahan
senyum. Sementara dia cuma ngikik melihat ekspresi saya.

Saya memulai membacanya. Dan sampai saat inipun saya masih hapal dengan
kata-katanya. Begini isi
surat itu.

Kepada YTH

Calon istri saya, calon ibu anak-anak saya, calon anak Ibu saya dan calon
kakak buat adik-adik saya

Di tempat

Assalamu’alaikum Wr Wb

Mohon maaf kalau anda tidak berkenan. Tapi saya mohon bacalah surat ini
hingga akhir. Baru kemudian silahkan dibuang atau dibakar, tapi saya
mohon, bacalah dulu sampai selesai.

Saya, yang bernama …… menginginkan anda ……untuk menjadi istri
saya. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya manusia biasa.

Saat ini saya punya pekerjaan.

Tapi saya tidak tahu apakah nanti saya akan tetap punya pekerjaan. Tapi
yang pasti saya akan berusaha punya penghasilan
untuk mencukupi kebutuhan
istri dan anak-anakku kelak.

Saya memang masih kontrak rumah. Dan saya tidak tahu apakah nanti akan
ngontrak selamannya.

Yang pasti, saya akan selalu berusaha agar istri dan anak-anak saya tidak
kepanasan dan tidak kehujanan.

Saya hanyalah manusia biasa, yang punya banyak kelemahan dan beberapa
kelebihan. Saya menginginkan anda untuk mendampingi saya.. Untuk menutupi
kelemahan saya dan mengendalikan kelebihan saya. Saya hanya manusia biasa.
Cinta saya juga biasa saja…

Oleh karena itu. Saya menginginkan anda mau membantu saya memupuk dan
merawat cinta ini, agar menjadi luar biasa.

Saya tidak tahu apakah kita nanti dapat bersama-sama sampai mati. Karena
saya tidak tahu suratan jodoh saya.

Yang pasti saya akan berusaha sekuat tenaga menjadi suami dan ayah yang
baik. Kenapa saya memilih anda ?

Sampai saat ini saya tidak tahu kenapa saya memilih
anda..

Saya sudah sholat istiqaroh berkali-kali, dan saya semakin mantap memilih
anda.

Yang saya tahu, Saya memilih anda karena Allah.. Dan yang pasti, saya
menikah untuk menyempurnakan agama saya, juga sunnah Rasulullah.

Saya tidak berani menjanjikan apa-apa, saya hanya berusaha sekuat mungkin
menjadi lebih baik dari saat ini.

Saya mohon sholat istiqaroh dulu sebelum memberi jawaban pada saya.

Saya kasih waktu minimal 1 minggu, maksimal 1 bulan.

Semoga Allah ridho dengan jalan yang kita tempuh ini. Amin

Wassalamu’alaikum Wr Wb

Saya memandang surat itu lama. Berkali-kali saya membacanya. Baru kali ini
saya membaca surat ‘lamaran’ yang begitu indah.

Sederhana, jujur dan realistis. Tanpa janji-janji gombal dan kata yang
berbunga-bunga.

Surat cinta minimalis, saya menyebutnya :D.

Saya menatap sahabat disamping saya. Dia menatap saya dengan senyum
tertahan.

“Kenapa kamu memilih dia..”

“Karena dia manusia biasa.” Dia menjawab mantap. “Dia sadar bahwa dia
manusia biasa. Dia masih punya Allah yang mengatur hidupnya.

Yang aku tahu dia akan selalu berusaha tapi dia tidak menjanjikan apa-apa.
Soalnya dia tidak tahu, apa yang akan terjadi pada kita dikemudian hari.

Entah kenapa, Itu justru memberikan kenyamanan tersendiri buat aku.”

“Maksudnya?”

“Dunia ini fana. Apa yang kita punya hari ini belum tentu besok masih ada.
Iya kan ? Paling gak.Aku tau bahwa dia gak bakal frustasi kalau suatu saat
nanti kita jadi gembel.

“Ssttt.” Saya membekap mulutnya. Kuatir ada yang tau kalau kita belum
tidur. Terdiam kita memasang telinga.

Sunyi.. Suara jengkering terdengar nyaring diluar tembok. Kita saling
berpandangan lalu cekikikan sambil menutup mulut masing-masing.

“Udah tidur. Besok kamu kucel, ntar aku yang dimarahin Mama.” Kita kembali
rebahan. Tapi mata ini tidak bisa terpejam. Percakapan kita tadi masih
terngiang terus ditelinga saya.

“Gik…”

“Tidur. Dah malam.” Saya menjawab tanpa menoleh padanya.. Saya ingin dia
tidur, agar dia terlihat cantik besok pagi. Kantuk saya hilang sudah,
kayaknya gak bakalan tidur semaleman nih.

Satu lagi pelajaran pernikahan saya peroleh hari itu.

Ketika manusia sadar dengan kemanusiannya. Sadar bahwa
ada hal lain yang
mengatur segala kehidupannya.

Begitupun dengan sebuah pernikahan. Suratan jodoh sudah tergores sejak ruh
ditiupkan dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana dan
berapa lama pernikahnnya kelak.

Lalu menjadikan proses menuju pernikahan bukanlah sebagai beban tapi
sebuah ‘proses usaha’. Betapa indah bila proses menuju pernikahan
mengabaikan harta, tahta dan ‘nama’.

Embel-embel predikat diri yang selama ini melekat ditanggalkan.

Ketika segala yang ‘melekat’ pada diri bukanlah dijadikan pertimbangan
yang utama.

Pernikahan hanya dilandasi karena Allah semata. Diniatkan untuk ibadah.

Menyerahkan secara total pada Allah yang membuat skenarionya.

Maka semua menjadi indah.

Hanya Allah yang mampu menggerakkan hati setiap umat-NYA. Hanya Allah yang
mampu memudahkan segala urusan. Hanya Allah yang mampu menyegerakan sebuah
pernikahan.

Kita hanya bisa
memohon keridhoan Allah. Meminta-NYA mengucurkan barokah
dalam sebuah pernikahan. Hanya Allah jua yang akan menjaga ketenangan dan
kemantapan untuk menikah.

Lalu, bagaimana dengan cinta ?

Ibu saya pernah bilang, Cinta itu proses.

Proses dari ada, menjadi hadir, lalu tumbuh, kemudian merawatnya.

Agar cinta itu bisa bersemi dengan indah menaungi dua insan dalam
pernikahan yang suci. Witing tresno jalaran garwo(sigaraning nyowo),

kalau diterjemahkan secara bebas. Cinta tumbuh karena suami/istri (belahan
jiwa).

Cinta paling halal dan suci. Cinta dua manusia biasa, yang berusaha
menggabungkannya agar menjadi cinta yang luar biasa. “Awignamastu Namo Sidham”.

hmmm kemaren dapet email dari temen, kupikir sayang jug akalo ndak dibagi..

ni dia ceritanya:
Alkisah, ada sepasang kekasih yang saling mencintai. Sang pria

berasal dari keluarga kaya, dan merupakan orang yang terpandang di kota
tersebut. Sedangkan sang wanita adalah seorang yatim piatu, hidup serba
kekurangan, tetapi cantik, lemah lembut, dan baik hati. Kelebihan inilah

yang membuat sang pria jatuh hati.

Sang wanita hamil di luar nikah. Sang pria lalu mengajaknya menikah,
dengan membawa sang wanita ke rumahnya. Seperti yang sudah mereka duga,
orang tua sang pria tidak menyukai wanita tsb. Sebagai orang yang
terpandang di kota tsb, latar belakang wanita tsb akan merusak reputasi
keluarga. Sebaliknya, mereka bahkan telah mencarikan jodoh yang sepadan
untuk anaknya. Sang pria berusaha menyakinkan orang tuanya, bahwa ia
sudah menetapkan keputusannya, apapun resikonya bagi dia.

Sang wanita merasa tak berdaya, tetapi sang pria menyakinkan wanita tsb
bahwa tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Sang pria terus berargumen
dengan orang tuanya, bahkan membantah perkataan orangtuanya, sesuatu
yang belum pernah dilakukannya selama hidupnya (di zaman dulu, umumnya
seorang anak sangat tunduk pada orang tuanya).

Sebulan telah berlalu, sang pria gagal untuk membujuk orang tuanya agar
menerima calon istrinya. Sang orang tua juga stress karena gagal
membujuk anak satu-satunya, agar berpisah dengan wanita tsb, yang
menurut mereka akan sangat merugikan masa depannya.

Sang pria akhirnya menetapkan pilihan untuk kawin lari.
Ia
memutuskan untuk meninggalkan semuanya demi sang kekasih. Waktu
keberangkatan pun ditetapkan, tetapi rupanya rencana ini diketahui oleh
orang tua sang pria. Maka ketika saatnya tiba, sang ortu mengunci
anaknya di dalam kamar dan dijaga ketat oleh para bawahan di rumahnya
yang besar.

Sebagai gantinya, kedua orang tua datang ke tempat yang telah

ditentukan sepasang kekasih tsb untuk melarikan diri. Sang wanita sangat

terkejut dengan kedatangan ayah dan ibu sang pria. Mereka kemudian
memohon pengertian dari sang wanita, agar meninggalkan anak mereka satu-
satunya.

Menurut mereka, dengan perbedaan status sosial yang sangat besar,
perkawinan mereka hanya akan menjadi gunjingan seluruh penduduk kota,
reputasi anaknya akan tercemar, orang2 tidak akan menghormatinya lagi.
Akibatnya, bisnis yang akan diwariskan kepada anak mereka akan bangkrut
secara perlahan2.

Mereka bahkan memberikan uang dalam jumlah banyak, dengan permohonan
agar wanita tsb meninggalkan kota ini, tidak bertemu dengan anaknya
lagi, dan menggugurkan kandungannya. Uang tsb dapat digunakan untuk
membiayai hidupnya di tempat lain.

Sang wanita menangis tersedu-sedu. Dalam hati kecilnya, ia sadar bahwa
perbedaan status sosial yang sangat jauh, akan menimbulkan banyak
kesulitan bagi kekasihnya. Akhirnya, ia setuju untuk meninggalkan kota
ini, tetapi menolak untuk menerima uang tsb. Ia mencintai sang pria,
bukan uangnya. Walaupun ia sepenuhnya sadar, jalan hidupnya ke depan
akan sangat sulit?.

Ibu sang pria kembali memohon kepada wanita tsb untuk meninggalkan
sepucuk surat kepada mereka, yang menyatakan bahwa ia memilih berpisah
dengan sang pria. Ibu sang pria kuatir anaknya akan terus mencari
kekasihnya, dan tidak mau meneruskan usaha orang tuanya. “Walaupun ia
kelak bukan suamimu, bukankah Anda ingin melihatnya sebagai seseorang
yang berhasil? Ini adalah untuk kebaikan kalian berdua”, kata sang ibu.

Dengan berat hati, sang wanita menulis surat. Ia menjelaskan bahwa ia
sudah memutuskan untuk pergi meninggalkan sang pria. Ia sadar bahwa
keberadaannya hanya akan merugikan sang pria. Ia minta maaf karena telah

melanggar janji setia mereka berdua, bahwa mereka akan selalu bersama
dalam menghadapi penolakan2 akibat perbedaan status sosial mereka. Ia
tidak kuat lagi menahan penderitaan ini, dan memutuskan untuk berpisah.
Tetesan air

mata sang wanita tampak membasahi surat tersebut.

Sang wanita yang malang tsb tampak tidak punya pilihan lain.
Ia
terjebak antara moral dan cintanya. Sang wanita segera meninggalkan kota

itu, sendirian. Ia menuju sebuah desa yang lebih terpencil. Disana, ia
bertekad untuk melahirkan dan membesarkan anaknya.

==========000000000 0======== ======

Tiga tahun telah berlalu. Ternyata wanita tersebut telah menjadi seorang
ibu. Anaknya seorang laki2. Sang ibu bekerja keras siang dan malam,
untuk membiayai kehidupan mereka. Di pagi dan siang hari, ia bekerja di
sebuah industri rumah tangga, malamnya, ia menyuci pakaian2 tetangga dan

menyulam sesuai dengan pesanan pelanggan. Kebanyakan ia melakukan semua
pekerjaan ini sambil menggendong anak di punggungnya. Walaupun ia cukup
berpendidikan, ia menyadari bahwa pekerjaan lain tidak memungkinkan,
karena ia harus berada di sisi anaknya setiap saat. Tetapi sang ibu
tidak pernah mengeluh dengan pekerjaannya?

Di usia tiga tahun, suatu saat, sang anak tiba2 sakit keras.
Demamnya sangat tinggi. Ia segera dibawa ke rumah sakit setempat.
Anak
tsb
harus menginap di rumah sakit selama beberapa hari. Biaya pengobatan
telah menguras habis seluruh tabungan dari hasil kerja kerasnya selama
ini, dan itupun belum cukup. Ibu tsb akhirnya juga meminjam ke
sana-sini, kepada siapapun yang bermurah hati untuk memberikan pinjaman.

Saat diperbolehkan pulang, sang dokter menyarankan untuk membuat sup
ramuan, untuk mempercepat kesembuhan putranya. Ramuan tsb terdiri dari
obat2 herbal dan daging sapi untuk dikukus bersama. Tetapi sang ibu
hanya mampu membeli obat2 herbal tsb, ia tidak punya uang sepeserpun
lagi untuk membeli daging. Untuk meminjam lagi, rasanya tak mungkin,
karena ia telah berutang kepada semua orang yang ia kenal, dan belum
terbayar.

Ketika di rumah, sang ibu menangis. Ia tidak tahu harus berbuat apa,
untuk mendapatkan daging. Toko daging di desa tsb telah menolak
permintaannya, untuk bayar di akhir bulan saat gajian.

Diantara tangisannya, ia tiba2 mendapatkan ide. Ia mencari alkohol yang
ada di rumahnya, sebilah pisau dapur, dan sepotong kain.
Setelah pisau dapur dibersihkan dengan alkohol, sang ibu nekad mengambil

sekerat daging dari pahanya. Agar tidak membangunkan anaknya yang sedang

tidur, ia mengikat mulutnya dengan sepotong kain. Darah berhamburan.
Sang
ibu tengah berjuang mengambil dagingnya sendiri, sambil berusaha tidak
mengeluarkan suara kesakitan yang teramat sangat?..

Hujan lebatpun turun. Lebatnya hujan menyebabkan rintihan kesakitan sang
ibu tidak terdengar oleh para tetangga, terutama oleh anaknya sendiri.
Tampaknya langit juga tersentuh dengan pengorbanan yang sedang dilakukan
oleh sang ibu???.

==========000000000 0======== ======

Enam tahun telah berlalu, anaknya tumbuh menjadi seorang anak

yang tampan, cerdas, dan berbudi pekerti. Ia juga sangat sayang ibunya.
Di
hari minggu, mereka sering pergi ke taman di desa tersebut, bermain
bersama, dan bersama2 menyanyikan lagu “Shi Sang Chi You Mama Hau”
(terjemahannya
“Di
Dunia ini, hanya ibu seorang yang baik”).

Sang anak juga sudah sekolah. Sang ibu sekarang bekerja sebagai penjaga
toko, karena ia sudah bisa meninggalkan anaknya di siang hari.
Hari2
mereka lewatkan dengan kebersamaan, penuh kebahagiaan. Sang anak
terkadang memaksa ibunya, agar ia bisa membantu ibunya menyuci di malam
hari.
Ia
tahu
ibunya masih menyuci di malam hari, karena perlu tambahan biaya untuk
sekolahnya. Ia memang seorang anak yang cerdas.

Ia juga tahu, bulan depan adalah hari ulang tahun ibunya.
Ia
berniat membelikan sebuah jam tangan, yang sangat didambakan ibunya
selama ini. Ibunya pernah mencobanya di sebuah toko, tetapi segera
menolak setelah pemilik toko menyebutkan harganya. Jam tangan itu
sederhana, tidak terlalu mewah, tetapi bagi mereka, itu terlalu mahal.
Masih banyak keperluan lain yang perlu dibiayai.

Sang anak segera pergi ke toko tsb, yang tidak jauh dari rumahnya. Ia
meminta kepada kakek pemilik toko agar menyimpan jam tangan

tsb, karena ia akan membelinya bulan depan. “Apakah kamu punya uang?”
tanya
sang pemilik toko. “Tidak sekarang, nanti saya akan punya”, kata sang
anak dengan serius.

Ternyata, bulan depan sang anak benar2 muncul untuk membeli jam tangan
tsb. Sang kakek juga terkejut, kiranya sang anak hanya main2.
Ketika
menyerahkan uangnya, sang kakek bertanya “Dari mana kamu mendapatkan
uang itu? Bukan mencuri kan?”. “Saya tidak mencuri, kakek. Hari ini
adalah hari ulang tahun ibuku. Saya biasanya naik becak pulang pergi ke
sekolah.
Selama
sebulan ini, saya berjalan kaki saat pulang dari sekolah ke rumah, uang
jajan dan uang becaknya saya simpan untuk beli jam ini. Kakiku sakit,
tapi ini semua untuk ibuku. O ya, jangan beritahu ibuku tentang hal ini.
Ia
akan
marah” kata sang anak. Sang pemilik toko tampak kagum pada anak tsb.

Seperti biasanya, sang ibu pulang dari kerja di sore hari.
Sang
anak segera memberikan ucapan selamat pada ibu, dan menyerahkan jam
tangan tsb. Sang ibu terkejut bercampur haru, ia bangga dengan anaknya.
Jam tangan ini memang adalah impiannya. Tetapi sang ibu tiba2 tersadar,
dari mana uang untuk membeli jam tsb. Sang anak tutup mulut, tidak mau
menjawab.

“Apakah kamu mencuri, Nak?” Sang anak diam seribu bahasa, ia tidak ingin
ibu mengetahui bagaimana ia mengumpulkan uang tersebut.
Setelah
ditanya berkali2 tanpa jawaban, sang ibu menyimpulkan bahwa anaknya
telah mencuri. “Walaupun kita miskin, kita tidak boleh mencuri. Bukankah
ibu sudah mengajari kamu tentang hal ini?” kata sang ibu.

Lalu ibu mengambil rotan dan mulai memukul anaknya.
Biarpun
ibu
sayang pada anaknya, ia harus mendidik anaknya sejak kecil. Sang anak
menangis, sedangkan air mata sang ibu mengalir keluar. Hatinya begitu
perih, karena ia sedang memukul belahan hatinya. Tetapi ia harus
melakukannya, demi kebaikan anaknya.

Suara tangisan sang anak terdengar keluar. Para tetangga menuju ke rumah
tsb heran, dan kemudian prihatin setelah mengetahui kejadiannya.
“Ia sebenarnya anak yang baik”, kata salah satu tetangganya.
Kebetulan
sekali, sang pemilik toko sedang berkunjung ke rumah salah satu
tetangganya yang merupakan familinya.

Ketika ia keluar melihat ke rumah itu, ia segera mengenal anak itu.
Ketika mengetahui persoalannya, ia segera menghampiri ibu itu untuk

menjelaskan. Tetapi tiba2 sang anak berlari ke arah pemilik toko,
memohon agar jangan menceritakan yang sebenarnya pada ibunya.

“Nak, ketahuilah, anak yang baik tidak boleh berbohong, dan tidak boleh
menyembunyikan sesuatu dari ibunya”. Sang anak mengikuti nasehat kakek
itu. Maka kakek itu mulai menceritakan bagaimana sang anak
tiba2
muncul di tokonya sebulan yang lalu, memintanya untuk menyimpan jam
tangan tsb, dan sebulan kemudian akan membelinya. Anak itu muncul siang
tadi di

tokonya, katanya hari ini adalah hari ulang tahun ibunya. Ia juga
menceritakan bagaimana sang anak berjalan kaki dari sekolahnya pulang ke

rumah dan tidak jajan di sekolah selama sebulan ini, untuk mengumpulkan
uang membeli jam tangan kesukaan ibunya.

Tampak sang kakek meneteskan air mata saat selesai menjelaskan hal tsb,
begitu pula dengan tetangganya. Sang ibu segera memeluk anak
kesayangannya, keduanya menangis dengan tersedu-sedu? .”Maafkan saya,
Nak.”
“Tidak Bu, saya yang bersalah”??? ..

===========000= ========= =======

Sementara itu, ternyata ayah dari sang anak sudah menikah, tetapi
istrinya mandul. Mereka tidak punya anak. Sang ortu sangat sedih akan
hal ini, karena tidak akan ada yang mewarisi usaha mereka kelak.

Ketika sang ibu dan anaknya berjalan2 ke kota, dalam sebuah kesempatan,
mereka bertemu dengan sang ayah dan istrinya. Sang ayah baru

menyadari bahwa sebenarnya ia sudah punya anak dari darah dagingnya
sendiri.
Ia mengajak mereka berkunjung ke rumahnya, bersedia menanggung semua
biaya hidup mereka, tetapi sang ibu menolak. Kami bisa hidup dengan baik
tanpa

bantuanmu.

Berita ini segera diketahui oleh orang tua sang pria.
Mereka
begitu ingin melihat cucunya, tetapi sang ibu tidak mau mengizinkan.

===========000= ========= ========

Di pertengahan tahun, penyakit sang anak kembali kambuh.
Dokter
mengatakan bahwa penyakit sang anak butuh operasi dan perawatan yang
konsisten. Kalau kambuh lagi, akan membahayakan jiwanya.

Keuangan sang ibu sudah agak membaik, dibandingkan sebelumnya.
Tetapi biaya medis tidaklah murah, ia tidak sanggup membiayainya.

Sang ibu kembali berpikir keras. Tetapi ia tidak menemukan solusi yang
tepat. Satu2nya jalan keluar adalah menyerahkan anaknya kepada sang
ayah, karena sang ayahlah yang mampu membiayai perawatannya.

Maka di hari Minggu ini, sang ibu kembali mengajak anaknya berkeliling
kota, bermain2 di taman kesukaan mereka. Mereka gembira sekali,
menyanyikan lagu “Shi Sang Chi You Mama Hau”, lagu kesayangan mereka.
Untuk
sejenak, sang ibu melupakan semua penderitaannya, ia hanyut dalam
kegembiraan bersama sang anak.

Sepulang ke rumah, ibu menjelaskan keadaannya pada sang anak.

Sang anak menolak untuk tinggal bersama ayahnya, karena ia hanya ingin
dengan ibu. “Tetapi ibu tidak mampu membiayai perawatan kamu, Nak”
kata
ibu.
“Tidak apa2 Bu, saya tidak perlu dirawat. Saya sudah sehat, bila bisa
bersama2 dengan ibu. Bila sudah besar nanti, saya akan cari banyak uang
untuk biaya perawatan saya dan untuk ibu. Nanti, ibu tidak perlu bekerja

lagi, Bu”, kata sang anak. Tetapi ibu memaksa akan berkunjung ke rumah
sang ayah keesokan harinya. Penyakitnya memang bisa kambuh setiap saat.

Disana ia diperkenalkan dengan kakek dan neneknya.
Keduanya
sangat senang melihat anak imut tersebut. Ketika ibunya hendak pulang,
sang anak meronta2 ingin ikut pulang dengan ibunya. Walaupun diberikan
mainan

kesukaan sang anak, yang tidak pernah ia peroleh saat bersama ibunya,
sang anak menolak. “Saya ingin Ibu, saya tidak mau mainan itu”, teriak
sang anak dengan nada yang polos. Dengan hati sedih dan menangis, sang
ibu berkata

“Nak, kamu harus dengar nasehat ibu. Tinggallah di sini. Ayah, kakek dan

nenek akan bermain bersamamu.” “Tidak, aku tidak mau mereka. Saya hanya
mau ibu, saya sayang ibu, bukankah ibu juga sayang saya? Ibu sekarang
tidak mau saya lagi”, sang anak mulai menangis.
Bujukan demi bujukan ibunya untuk tinggal di rumah besar tsb tidak
didengarkan anak kecil tsb. Sang anak menangis tersedu2 “Kalau ibu

sayang padaku, bawalah saya pergi, Bu”. Sampai pada akhirnya, ibunya
memaksa dengan mengatakan “Benar, ibu tidak sayang kamu lagi. Tinggallah
disini”, ibunya segera lari keluar meninggalkan rumah tsb. Tampak
anaknya
meronta2
dengan ledakan tangis yang memilukan.

Di rumah, sang ibu kembali meratapi nasibnya. Tangisannya begitu
menyayat hati, ia telah berpisah dengan anaknya. Ia tidak diperbolehkan
menjenguk anaknya, tetapi mereka berjanji akan merawat anaknya dengan
baik.
Diantara isak tangisnya, ia tidak menemukan arti hidup ini lagi. Ia
telah kehilangan satu2nya alasan untuk hidup, anaknya tercinta.

Kemudian ibu yang malang itu mengambil pisau dapur untuk memotong urat
nadinya. Tetapi saat akan dilakukan, ia sadar bahwa anaknya mungkin
tidak akan diperlakukan dengan baik. Tidak, ia harus hidup untuk

mengetahui bahwa anaknya diperlakukan dengan baik. Segera, niat bunuh
diri itu dibatalkan, demi anaknya juga??..

============ 000====== ===

Setahun berlalu. Sang ibu telah pindah ke tempat lain, mendapatkan kerja
yang lebih baik lagi. Sang anak telah sehat, walaupun tetap menjalani
perawatan medis secara rutin setiap bulan.

Seperti biasa, sang anak ingat akan hari ulang tahun ibunya.
Uang pun dapat ia peroleh dengan mudah, tanpa perlu bersusah payah
mengumpulkannya. Maka, pada hari tsb, sepulang dari sekolah, ia tidak
pulang ke rumah, ia segera naik bus menuju ke desa tempat tinggal
ibunya, yang memakan waktu beberapa jam. Sang anak telah mempersiapkan
setangkai bunga, sepucuk surat yang menyatakan ia setiap hari merindukan
ibu, sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun, dan nilai ujian yang
sangat bagus. Ia akan memberikan semuanya untuk ibu.

Sang anak berlari riang gembira melewati gang-gang kecil menuju
rumahnya. Tetapi ketika sampai di rumah, ia mendapati rumah ini telah
kosong. Tetangga mengatakan ibunya telah pindah, dan tidak ada yang tahu

kemana ibunya pergi. Sang anak tidak tahu harus berbuat apa, ia duduk di

depan rumah tsb, menangis “Ibu benar2 tidak menginginkan saya lagi.”

Sementara itu, keluarga sang ayah begitu cemas, ketika sang anak sudah
terlambat pulang ke rumah selama lebih dari 3 jam. Guru sekolah
mengatakan semuanya sudah pulang. Semua tempat sudah dicari, tetapi
tidak ada kabar.
Mereka panik. Sang ayah menelpon ibunya, yang juga sangat terkejut.
Polisi
pun dihubungi untuk melaporkan anak hilang.

Ketika sang ibu sedang berpikir keras, tiba2 ia teringat sesuatu.
Hari
ini
adalah hari ulang tahunnya. Ia terlalu sibuk sampai melupakannya.
Anaknya
mungkin pulang ke rumah. Maka sang ayah dan sang ibu segera naik mobil
menuju rumah tsb. Sayangnya, mereka hanya menemukan kartu ulang tahun,
setangkai bunga, nilai ujian yang bagus, dan sepucuk surat anaknya.
Sang
ibu
tidak mampu menahan tangisannya, saat membaca tulisan2 imut anaknya
dalam surat itu.

Hari mulai gelap. Mereka sibuk mencari di sekitar desa tsb, tanpa
mendapatkan petunjuk apapun. Sang ibu semakin resah. Kemudian sang ibu
membakar dupa, berlutut di hadapan altar Dewi Kuan Im, sambil menangis
ia memohon agar bisa menemukan anaknya.

Seperti mendapat petunjuk, sang ibu tiba2 ingat bahwa ia dan anaknya
pernah pergi ke sebuah kuil Kuan Im di desa tsb. Ibunya pernah berkata,
bahwa bila kamu memerlukan pertolongan, mohonlah kepada Dewi Kuan Im
yang welas asih.
Dewi Kuan Im pasti akan menolongmu, jika niat kamu baik. Ibunya
memprediksikan bahwa anaknya mungkin pergi ke kuil tsb untuk memohon
agar bisa bertemu dengan dirinya.

Benar saja, ternyata sang anak berada di sana. Tetapi ia pingsan,
demamnya tinggi sekali. Sang ayah segera menggendong anaknya untuk
dilarikan ke rumah sakit. Saat menuruni tangga kuil, sang ibu terjatuh
dari tangga, dan berguling2 jatuh ke bawah????..

============ 000====== ========

Sepuluh tahun sudah berlalu. Kini sang anak sudah memasuki bangku
kuliah. Ia sering beradu mulut dengan ayah, mengenai persoalan ibunya.
Sejak jatuh dari tangga, ibunya tidak pernah ditemukan. Sang anak telah
banyak menghabiskan uang untuk mencari ibunya kemana2, tetapi hasilnya
nihil.

Siang itu, seperti biasa sehabis kuliah, sang anak berjalan bersama
dengan teman wanitanya. Mereka tampak serasi. Saat melaju dengan mobil,
di persimpangan sebuah jalan, ia melihat seorang wanita tua yang sedang
mengemis. Ibu tsb terlihat kumuh, dan tampak memakai tongkat. Ia tidak
pernah melihat wanita itu sebelumnya. Wajahnya kumal, dan ia tampak
berkomat-kamit.

Di dorong rasa ingin tahu, ia menghentikan mobilnya, dan turun bersama
pacar untuk menghampiri pengemis tua itu. Ternyata sang pengemis tua
sambil mengacungkan kaleng kosong untuk minta sedekah, ia berucap dengan
lemah “Dimanakah anakku? Apakah kalian melihat anakku?”

Sang anak merasa mengenal wanita tua itu. Tanpa disadari, ia segera
menyanyikan lagu “Shi Sang Ci You Mama Hau” dengan suara perlahan, tak
disangka sang pengemis tua ikut menyanyikannya dengan suara lemah.
Mereka
berdua menyanyi bersama. Ia segera mengenal suara ibunya yang selalu
menyanyikan lagu tsb saat ia kecil, sang anak segera memeluk pengemis
tua itu dan berteriak dengan haru “Ibu? Ini saya ibu”.

Sang pengemis tua itu terkejut, ia meraba2 muka sang anak, lalu
bertanya, “Apakah kamu ??..(nama anak itu)?” “Benar bu, saya adalah anak
ibu?”.
Keduanya pun berpelukan dengan erat, air mata keduanya berbaur membasahi

bumi???.
Karena jatuh dari tangga, sang ibu yang terbentur kepalanya menjadi
hilang ingatan, tetapi ia setiap hari selama sepuluh tahun terus

mencari anaknya, tanpa peduli dengan keadaaan dirinya. Sebagian orang
menganggapnya sebagai orang gila?.

============ 000====== =======

Dalam kondisi kritis, Ibu kita akan melakukan apa saja demi kita. Ibu
bahkan rela mengorbankan nyawanya?..

Simaklah penggalan doa keputusasaan berikut ini, di saat Ibu masih muda,

ataupun disaat Ibu sudah tua :

1. Anakku masih kecil, masa depannya masih panjang. Oh Tuhan, ambillah
aku sebagai gantinya.
2. Aku sudah tua, Oh Tuhan, ambillah aku sebagai gantinya.

Diantara orang2 disekeliling Anda, yang Anda kenal, Saudara/I kandung
Anda, diantara lebih dari 6 Milyar manusia, siapakah yang rela
mengorbankan nyawanya untuk Anda, kapan pun, dimana pun, dengan cara
apapun ?